Minggu, 28 April 2013

Cendana _ Apel Timor



Cendana diambang Kepunahan


     Cendana seolah-olah menjadi bagian tak terpisahkan dari kamus pulau Timor. Didunia ini tidak banyak ditumbuhi pohon cendana, hanya beberapa tempat saja yang beruntung ditumbuhi kayu yang harum baunya ini. Jenis cendana yang tumbuh di pulau Timor dan sedikit di pulau Sumba dan Alor, adalah jenis ‘Santalun albuminn’. Sedangkan di Negara India adalah jenis cendana merah  (Ptero Carpus Indicus Weld) jenis ini kurang bermutu dan tak begitu disenangi sebagai bahan perdagangan.

      Cendana putih yang tumbuh di pulau Timor adalah jenis yang baik dan bermutu dan berguna untuk keperluan upacara keagamaan, membuat benda-benda souvenir dan obat-obatan, maka kayu cendana di pulau Timor sejak purbakala telah menjadi bahan perniagaan dunia yang penting, hingga sekarang.

        Bila anda datang di Bali, Anda akan menjumpai banyak patung ukiran bernilai jutaan rupiah yang di buat dari kayu cendana. Selain patung, ada kipas, peti-peti (kotak) kecil untuk perhiasan dan sebagainya. Semuanya itu dijual sebagai cindera mata. Jika dibagian buku ini ada kisah kemarau kayu cendana Timor dan Lilin, itu tidak lain untuk menggambarkan bahwa aset kebanggaan Daerah in sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. 

        Tetapi zaman pun telah berubah. Citra TTS yang melekat dengan kayu cendana putih sekarang sudah di ambang kepunahan. Hanya tinggal menunggu waktu saja, kapan anak cucu negeri ini menangisi kepunahan kayu cendana putih peninggalan para leluhurnya. Pemandangan bukit dan gunung-gunung yang digambarkan oleh Groeneveldt, Tome Pires,dan Fe Hsin, sekarang sudah tak relevan lagi untuk menyebut Timor pulau cendana putih.

        Melihat angka populasi cendana yang sudah diambang kepunahan membuat kita untuk merenung sambil bernostalgia ke masa lalu. Bahwa Timor Tengah Selatan sebagai bagian dari pulau Timor sudah dikenal sejak abad ke-7. Timor Tengah Selatan dengan kakayaan kayu cendana putihnya telah dikenal di India dan Cina saat ini.         

         Para pedagang dari Cina dan Hindu secara beramai-ramai mengunjungi Timor untuk membeli kayu cendana, di sekitar abad ke-10. Dalam buku Negara Kertagama (1365) dicatat, Timor dan Solor (Flores) yang terkenal dengan kayu cendananya adalah termasuk wilayah dari kerajaan Majapahit.

         Fe Hsin dalam bukunya Hsing Cbeng Sbeng Lan (1436) Masehi memberitakan: “Timor terletak disebelah Timur Madura.Gunung-gunungnya penuh ditumbuhi pohon cendana dan tak lain lagi yang dihasilkannya. Di sana terdapat 12 pelabuhan yang masing-masing diperintah oleh seorang penguasa”. Kayu cendana itu ditukar dengan barang–barang kerajinan Cina, Seperti perak,besi,porselin,sutra berwarna dan tekstil.

         kedatangan orang Cina di Timor mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, orang-orang Cina sudah lebih mengenal Timor sejak lama. Kedua, mungkin pula orang Cina merasa mendapat perlindungan dari pemerintah di kupang sebagai pachter (penyewa), sebagian mudah membina hubungan dengan raja-raja setempat.

         Semakin berkurangnya perdagangan kayu cendana juga sebagai akibat penebangan yang tidak teratur, dan tidak dilakukan peremajaan. Penduduk hanya menebang pohon-pohon cendana, sementara mereka tidak pernah menanam lagi yang baru. Keadaan ini selain membuat semakin berkurangnya kayu cendana, juga membawa akibat berkurangnya tempat bagi lebah untuk membuat sarang-sarangnya.

        Penebangan kayu cendana terjadi secara besar-besaran ketika muncul pabrik minyak cendana di kupang pada pertengahan abad ke-19. Akibat penebangan yang tidak teratur, menyebabkan terjadi kerusakan pohon–pohon cendana. Karena adanya kekhawatiran persediaan cendana habis, maka sejak 1906 pemerintah Belanda mulai memberikan perhatian atas nasib kayu cendana Timor, dan 1913 menetapkan melakukan penanaman baru kayu cendana, bahkan pada 1928 pemerintah Hindia Belanda mencanangakan 67 ribu hektar tanah sebagai areal penyebaran kayu  cendana.

Namun usaha ini kurang berhasil karena terganggu oleh ternak dan sering terjadi kebakaran dan pada abad ke 18 dengan masuknya kekuatan Belanda di Timor, maka perdagangan kayu cendana mulai dikuasai Belanda. Laporan mengenai peranan VOC dalam perdagangan kayu cendana muncul pada 1750. Disebut, bahwa penduduk tidak lagi menebang kayunya, dan tidak langsung membawa kayunya kepantai, tapi penebangan oleh setiap orang dibolehkan dengan syarat 1/3 dari hasilnya ditarik sebagai pajak oleh kompeni Belanda.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa era kejayaan perdagangan kayu cendana tempo doeloe merupakan bentangan sejarah masa lalu tentang bagaimana ramainya kapal-kapal dagang Makasar, Cina, Portugis dan Belanda secara teratur menyinggahi pelabuhan Bitan Boking dan Kolbano.

       Kekayaan dari pulau Timor itu sendiri karena mempunyai pulau yang gunung-gunungnya ditutupi pohon cendana dan rakyatnya yang tabah. Amboi, kalau segala usaha untuk memperoleh hasil dari segala kekayaan itu disalurkan dari dahulu dengan diarahkan kepada rakyat Timor, pasti keadaaan rakyat Timor pada permulaan kemerdekaan tidak begitu terbelakang, tidak miskin akan pengetahuan dan harta benda.

     



Menangisi Kepunahan Apel Timor


        Andaikan Ir. Soekarno masih hidup, mungkin dia akan kaget, terheran-heran membaca berita kepunahan apel Timor masuk Koran Jakarta. Pasalnya, Presiden Soekarno bukan hanya  merasakan gurihnya mutu rasa apel Timor, tapi apel Timor dimata Soekarno, lebih gurih dan enak dibanding Daerah asalnya Malang, Jawa Timur.

        Tentang kapan tanaman apel ini ditanam pertama kali di Timor, masih kurang jelas. Harian kompas edisi 16 maret 1984 mewartakan, bahwa sekitar 30 tahun lalu misionaris gereja di Desa Kapan Mollo Utara melakukan okulasi apel produktif dengan apel hutan. Hasilnya memuaskan dan sejak saat itu penduduk desa tersebut turut menanam apel.

        Namun menurut Poppy Pelapelapon, putri kandung H.Pelapelapon, waktu itu H.Pelapelapon memesan okulasi apel jenis Roma Beauty sebanyak 28 okulasi dari kebun pembibitan di Lawang Jawa Timur, dan dikawinkan dengan apel liar di kebun pembibitan Buah-buahan di Oelbubuk. Setelah percobaan ini berhasil tahun 1956 barulah ia memerintah para mentri pertanian setempat untuk menyebarkan apel yang sudah diokulasi kepada penduduk di Oelbubuk dan Fatumnasi. inilah kisah awal tanaman apel di Kecamatan Molo Utara dan Kecamatan Mollo Selatan.

        Sejak saat itu tanaman apel milik rakyat di dua Kecamatan tumbuh rimbun, menghijau dan penuh buah, menyejukan mata dan hati. Tak hanya bagi pemiliknya tapi juga bagi siapa saja yang akan melewati kebun apel para petani. Buah apel yang bersembulan di cabang dan ranting selalu menggoda untuk memetiknya.

        Perkembangan sampai tahun 1981, tanaman apel di Kabupaten Timor Tengah Selatan(TTS) mencapai 268 hektar atau hamper 300.000 pohon apel yang tumbuh subur di kecamatan Mollo Utara dan Mollo Selatan. Rata-rata seorang petani memiliki 2000 sampai 3000 pohon apel.

Namun keadaan yang sebelumnya hijau menyegarkan mata dan jiwa mulai sirna. Hijauan pohon apel tak tampak lagi. yang tinggal terlihat hanya ranting dan cabang-cabang yang menguak di antara alang-alang. para petanipun menebang dan membakarnya.

       Penyakit tanaman apel ini mulai nampak tahun 1979. Tetapi waktu serangan penyakit hanya sporadis. Pada tahun-tahun berikutnya serangan hama makin meluas. Daun apel berbercak merah, melayu, kemudian kering lalu mati. Serangan bersifat eksplosif dan sukar dilawan. sampai pada tahun 1984, semua tanaman apel itu sirna dimangsa penyakit jamur upas Corthecium salmonicolor. Hama jenis ini pernah menyerang tanaman apel di Batu-Malang. Dari mana asal hama itu tidak diketahui. Namun menurut Kompas, diduga kuat bahwa penyakit itu muncul akibat kurang cermatnya petugas di Balai Pembibitan Buah-buahan Oelbubuk di Kapan.

        Saat itu penduduk pedalaman hanya memperoleh uang kontan dari menjual sapi, asam dan apel. Hampir tidak ada uang kontan yang dibawa pulang ke desa, kecuali barang-barang toko yang harganya jauh lebih tinggi dari asam, kemiri dan apel. Padahal, TTS potensial untuk hasil bumi yang bisa dijadikan produk industri kecil-kecilan.

        Seperti apel bisa dijadikan selei dan sirop. Apalagi asam. Pohon asam bertumbuh sendiri, berbuah sendiri, jatuh sendiri ditiup angin. Penduduk menjual asam begitu saja dengan harga yang sangat murah karena tidak tahu bahwa asam yang matang dipohon dengan warna coklat kekuningan dapat menjadi sirop botol yang nikmat dan mengandung khasiat obat untuk kesehatan.

        Mungkin yang masih bisa dibanggakan sekarang, yaitu jeruk Keprok SoE. Luas panen jeruk Keprok SoE di Kabupaten TTS meningkat dari tahun ke tahun. Hanya saja kalau panen membludak, pemasaranya paling-paling SoE atau Kupang. Dan telah dertahun-tahun tidak ada eksperimen maupun pembinaan kearah industri kecil-kecilan sekalipun. Komunikasi modern yang berlangsung untuk ekonomi pulau yang dekat dengan Australia ini juga masih terabaikan. 

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar